AMDAL dan IMB Mau Dihapus, Ini Penggantinya?
Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Sofyan Djalil mengatakan bahwa mengurus izin mendirikan bangunan (IMB) sangat repot. Dia pun mengkaji apakah IMB masih diperlukan untuk ke depannya.
Sofyan mengakui mengurus Izin Mendirikan Bangunan (IMB) saat ini sangatlah susah.
"(Urus) IMB sekarang ini repotnya luar biasa, lamanya tidak ketulungan, biayanya tidak terduga, kemudian punglinya tidak bisa dihindari," kata Sofyan di ruang Komisi II DPR RI, Senin (11/11/2019).
Untuk itu, Sofyan mewujudkan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). RDTR ini akan memudahkan urusan perizinan investasi karena pemerintah daerah (Pemda) bisa langsung menerbitkan izin lokasi.
Baca juga: Di DPR, Sofyan Djalil Dicecar Pertanyaan Sengketa Lahan
Sayangnya, hingga kini baru ada 53 kota dan kabupaten yang memiliki RDTR di seluruh Indonesia. Kata Sofyan, ia akan mempercepat izin RDTR ini.
"Perlu diketahui baru ada 53 RDTR di seluruh Indonesia. Begitu tidak ada RDTR maka kalo menyangkut tanah, menyangkut lokasi harus pergi ke daerah lagi. Oleh sebab itu kita akan percepat RDTR," imbuhnya.
Terkait adanya RDTR, Sofyan saat ini sedang mengkaji apakah IMB dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) masih tetap diperlukan atau tidak ke depannya. Pihaknya masih mendiskusikan lebih lanjut untuk menentukan keputusan yang terbaik.
"Kemarin ada FGD di kantor tentang apakah perlu IMB dan Amdal kalo sudah ada RDTR? Itu kita akan bahas lebih detail nanti mencari pilihan yang terbaik bagaimana, ini sedang kita diskusiin lebih lanjut," jelasnya.
Sumber :
https://finance.detik.com/properti/d-4780150/amdal-dan-imb-mau-dihapus-ini-penggantinya
Monday, November 11, 2019
Saturday, November 9, 2019
Lebih Baik Kontrak atau Kost
Senangnya bisa diterima kerja. Hepi? Pastinya iya. Eh ternyata penempatannya di daerah yang di luar domisili sekarang. Alasannya, kantor cabang di daerah lagi membutuhkan sumber daya manusia. Alhasil, keputusan kantor itu bikin kita jadi orang perantauan dong.
Mungkin enggak masalah kalau kantor cabang di daerah itu ada fasilitas wisma untuk karyawannya. Lha gimana kalau enggak ada? Adanya cuma fasilitas tunjangan sewa rumah. Kalau begini, enaknya pilih ngontrak atau ngekost ya?
Itu pasti pertanyaan yang kali pertama terlintas di kepala. Mengambil keputusan ngekos atau kontrak rumah ternyata bukan perkara gampang. Ada deretan pertimbangan. Mulai dari segi harga apakah tunjangan kantor cukup, lokasi, dan tetek bengek lainnya.
Biar enggak lama-lama nyut-nyutan di kepala, lebih baik jabarkan saja plus minus ngekos dan ngontrak.
Beda Ngekos sama Ngontrak
Meski sama-sama nyewa, tapi ada perbedaan yang jelas antara ngekos dan ngontrak. Ngekos itu identik sama sewa kamar yang sudah komplet fasilitas penunjangnya. Seperti tempat tidur, lemari, meja, kadang plus pendingin ruangan dan kamar mandi di dalam.
Beda sama kontrakan yang biasanya berwujud rumah petakan di mana si pengontrak mesti menyiapkan sendiri perabotannya. Praktis, bakalan tambah lagi pengeluaran untuk membuat kontrakan menjadi layak dihuni. Entah itu kasur, lemari, sampai peralatan dapur.
Perbedaan berikutnya adalah soal aturan main. Jika ngekos, maka semua penghuni wajib tunduk pada aturan kos-kosan yang dibuat sama pemilik. Misalnya saja jam kunjungan tamu. Kadang pemilik membatasi jam kunjungan tamu maksimal pukul 10.00 malam.
Ngekost biasanya lebih murah nih, tapi usahain dapet ibu atau bapak kost yang asik ya bro!
Terus aturan jam kunci pintu. Ini bisa bikin repot kalau keseringan lembur di kantor. Bisa-bisa enggak dibukain pintu sama penjaga kosnya. Sekali dua kali mungkin ga masalah. Si penjaga kos masih bersedia bukain setelah digedor-gedor.
Lha, kalau keseringan?
Lain halnya kalau ngontrak di mana kebebasan ada di tangan kita. Mau pulang kapan saja tak masalah. Wong kunci pintu kita yang pegang.
Begitu pun soal kebebasan ‘mengisi’ perabotan. Kalau ngekos mungkin minta izin dulu. Apalagi kalau berhubungan sama listrik, katakanlah komputer, mini compo, kompor listrik, dan sebagainya. Sedangkan ngontrak mah suka-suka kita saja.
Pengeluaran Ngekos vs Ngontrak
Masih ada lagi bedanya? Masih dong. Yang utama beda di segi harga yang pastinya sangat sensitif. Harga ngekos dan ngontrak tentu beda. Biasanya, harga sewa kontrakan akan jauh lebih mahal daripada sewa kos-kosan.
Rata-rata harga kos di kisaran Rp 500 ribu untuk fasilitas standar. Harga bisa bervariasi lagi kalau ditambah fasilitas kulkas atau pendingin ruangan. Kemudian sewanya dibayar bisa bulanan, tiga bulanan atau maksimal enam bulanan.
Sedangkan kontrakan dalam bentuk rumah rata-rata sewanya tahunan. Mulai dari Rp 2 juta sampai tak terhingga. Harga sangat tergantung dari lokasi, kondisi, luas, dan aksesnya.
Itu baru dari segi harga sewanya. Berikutnya adalah soal kemungkinan kerusakan. Kerusakan yang terjadi sama kos-kosan itu tanggung jawab pemilik. Misalnya atap bocor, engsel pintu rusak, pendingin ruangan mati, dan lain sebagainya. Tinggal komplen ke pemilik saja.
Sementara kalau ngontrak, semua kerusakan kita yang tanggung. Pemilik kontrakan menyerahkan semuanya ke kita. Saluran air mampet, genteng pecah, kusen dimakan rayap. Biar kontrakan itu nyaman lagi, mau enggak mau keluarin duit yang enggak sedikit untuk memperbaiki.
Cuma benefit lainnya dari ngontrak adalah bisa masak sendiri. Ini bisa menekan pengeluaran bulanan ketimbang jajan di luar. Memang sih awal-awal mesti ada pengeluaran tambahan untuk beli perlengkapan masak.
Ketika ngekos, lazimnya penghuni dilarang keras memasak sendiri. Alasannya, rentan kebakaran dan tak ada ruangan khusus memasak.
Tapi gak mustahil juga kos-kosannya nyediain dapur buat penghuninya yang mau masak. Cuman ya tetap saja, masaknya paling gak lebih dari indomie atau bikin sop.
Masak sendiri sih hemat, tapi jangan diberantakin kayak kapal pecah juga kelesss
Lalu suka yang mana? Ngekos atau ngontrak?
Tiap-tiap pilihan ada konsekuensi enak dan enggak enaknya. Sebenarnya sih ketika menentukan mau tinggal di kos atau kontrakan, besaran tunjangan dari kantor tak semata-mata jadi acuan.
Tinggal cek skala prioritasnya saja. Misalnya kalau masih sendiri dan tak bawa keluarga, bisa pilih kos-kosan. Begitu pun sebaliknya.
Atau sementara waktu bisa pilih ngekos dulu sebagai proses adaptasi sambil lihat kebijakan kantor soal mutasi. Bila ternyata cukup lama, bisa saja kemudian mencari kontrakan yang lebih menawarkan sisi privasi ketimbang ngekos.
Sumber :
https://www.moneysmart.id/kerja-merantau-mendingan-ngontrak-atau-ngekost-ya/
Mungkin enggak masalah kalau kantor cabang di daerah itu ada fasilitas wisma untuk karyawannya. Lha gimana kalau enggak ada? Adanya cuma fasilitas tunjangan sewa rumah. Kalau begini, enaknya pilih ngontrak atau ngekost ya?
Itu pasti pertanyaan yang kali pertama terlintas di kepala. Mengambil keputusan ngekos atau kontrak rumah ternyata bukan perkara gampang. Ada deretan pertimbangan. Mulai dari segi harga apakah tunjangan kantor cukup, lokasi, dan tetek bengek lainnya.
Biar enggak lama-lama nyut-nyutan di kepala, lebih baik jabarkan saja plus minus ngekos dan ngontrak.
Beda Ngekos sama Ngontrak
Meski sama-sama nyewa, tapi ada perbedaan yang jelas antara ngekos dan ngontrak. Ngekos itu identik sama sewa kamar yang sudah komplet fasilitas penunjangnya. Seperti tempat tidur, lemari, meja, kadang plus pendingin ruangan dan kamar mandi di dalam.
Beda sama kontrakan yang biasanya berwujud rumah petakan di mana si pengontrak mesti menyiapkan sendiri perabotannya. Praktis, bakalan tambah lagi pengeluaran untuk membuat kontrakan menjadi layak dihuni. Entah itu kasur, lemari, sampai peralatan dapur.
Perbedaan berikutnya adalah soal aturan main. Jika ngekos, maka semua penghuni wajib tunduk pada aturan kos-kosan yang dibuat sama pemilik. Misalnya saja jam kunjungan tamu. Kadang pemilik membatasi jam kunjungan tamu maksimal pukul 10.00 malam.
Ngekost biasanya lebih murah nih, tapi usahain dapet ibu atau bapak kost yang asik ya bro!
Terus aturan jam kunci pintu. Ini bisa bikin repot kalau keseringan lembur di kantor. Bisa-bisa enggak dibukain pintu sama penjaga kosnya. Sekali dua kali mungkin ga masalah. Si penjaga kos masih bersedia bukain setelah digedor-gedor.
Lha, kalau keseringan?
Lain halnya kalau ngontrak di mana kebebasan ada di tangan kita. Mau pulang kapan saja tak masalah. Wong kunci pintu kita yang pegang.
Begitu pun soal kebebasan ‘mengisi’ perabotan. Kalau ngekos mungkin minta izin dulu. Apalagi kalau berhubungan sama listrik, katakanlah komputer, mini compo, kompor listrik, dan sebagainya. Sedangkan ngontrak mah suka-suka kita saja.
Pengeluaran Ngekos vs Ngontrak
Masih ada lagi bedanya? Masih dong. Yang utama beda di segi harga yang pastinya sangat sensitif. Harga ngekos dan ngontrak tentu beda. Biasanya, harga sewa kontrakan akan jauh lebih mahal daripada sewa kos-kosan.
Rata-rata harga kos di kisaran Rp 500 ribu untuk fasilitas standar. Harga bisa bervariasi lagi kalau ditambah fasilitas kulkas atau pendingin ruangan. Kemudian sewanya dibayar bisa bulanan, tiga bulanan atau maksimal enam bulanan.
Sedangkan kontrakan dalam bentuk rumah rata-rata sewanya tahunan. Mulai dari Rp 2 juta sampai tak terhingga. Harga sangat tergantung dari lokasi, kondisi, luas, dan aksesnya.
Itu baru dari segi harga sewanya. Berikutnya adalah soal kemungkinan kerusakan. Kerusakan yang terjadi sama kos-kosan itu tanggung jawab pemilik. Misalnya atap bocor, engsel pintu rusak, pendingin ruangan mati, dan lain sebagainya. Tinggal komplen ke pemilik saja.
Sementara kalau ngontrak, semua kerusakan kita yang tanggung. Pemilik kontrakan menyerahkan semuanya ke kita. Saluran air mampet, genteng pecah, kusen dimakan rayap. Biar kontrakan itu nyaman lagi, mau enggak mau keluarin duit yang enggak sedikit untuk memperbaiki.
Cuma benefit lainnya dari ngontrak adalah bisa masak sendiri. Ini bisa menekan pengeluaran bulanan ketimbang jajan di luar. Memang sih awal-awal mesti ada pengeluaran tambahan untuk beli perlengkapan masak.
Ketika ngekos, lazimnya penghuni dilarang keras memasak sendiri. Alasannya, rentan kebakaran dan tak ada ruangan khusus memasak.
Tapi gak mustahil juga kos-kosannya nyediain dapur buat penghuninya yang mau masak. Cuman ya tetap saja, masaknya paling gak lebih dari indomie atau bikin sop.
Masak sendiri sih hemat, tapi jangan diberantakin kayak kapal pecah juga kelesss
Lalu suka yang mana? Ngekos atau ngontrak?
Tiap-tiap pilihan ada konsekuensi enak dan enggak enaknya. Sebenarnya sih ketika menentukan mau tinggal di kos atau kontrakan, besaran tunjangan dari kantor tak semata-mata jadi acuan.
Tinggal cek skala prioritasnya saja. Misalnya kalau masih sendiri dan tak bawa keluarga, bisa pilih kos-kosan. Begitu pun sebaliknya.
Atau sementara waktu bisa pilih ngekos dulu sebagai proses adaptasi sambil lihat kebijakan kantor soal mutasi. Bila ternyata cukup lama, bisa saja kemudian mencari kontrakan yang lebih menawarkan sisi privasi ketimbang ngekos.
Sumber :
https://www.moneysmart.id/kerja-merantau-mendingan-ngontrak-atau-ngekost-ya/
Kamar Kost vs Rumah Kontrak
Keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi merupakan hak setiap warga negara Indonesia, terutama mereka yang baru saja lulus dari tingkat Sekolah Menengah Atas atau Madrasah Aliyah. Berdasarkan jumlah lembaga pendidikan, jumlah perguruan tinggi memang lebih sedikit jika dibanding dengan jumlah SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA.
Jadi tidak perlu heran kalau mayoritas anak "kuliahan" adalah anak yang tinggal di kos-kosan maupun kontrakan, mereka memilih ngekos atau ngontrak biasanya dikarenakan jarak rumah dan kampus memang jauh, yang tidak memungkinkan jika melakukan perjalanan pp --pulang pergi- setiap harinya, belum kalau ada kegiatan dan tugas-tugas kampus yang menyita waktu dan menuntut mereka untuk bolak-balik ke kampus.
Bagi kamu mahasiswa perantauan pasti sangatlah penting untuk menentukan tempat tinggal yang nyaman dan tempat yang strategis di sekitar kampus. Namun, kerap kali tempat tinggal kos dan kontrakan menjadi pilihan yang sulit bagi siswa yang baru saja akan menempuh perkuliahan apalagi siswa tersebut tidak mengetahui kondisi daerah sekitar kampus.
Sebelumnya banyak yang tidak mengetahui perbedaan dari kos dan kontrakan itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Indekos adalah tinggal di rumah orang lain dengan atau tanpa makan (dengan membayar setiap bulan). Kontrakan adalah yang dikontrak atau disewa (tentang rumah dan sebagainya).
Ada juga yang mengatakan bahwa "kost" itu untuk orang lajang saja, dan untuk yang sudah berkeluarga menyebutnya "kontrakan". Ada pula yang membedakan dari tempatnya, jika "kost" itu untuk sebuah kamar, jika "kontrakan" adalah sebuah rumah. Ada juga yang membedakan dari sistem pembayarannya, kalau "kost" sistem pembayarannya bulanan, kalau "kontrakan" sistem pembayarannya tahunan.
Dalam seiring berjalannya waktu, pengusaha kost berlomba-lomba untuk memperbaiki bahkan menambah fasilitas di setiap kamarnya dengan meninggikan harga sesuai fasilitas yang ada. Biasanya isi kamar dalam sebuah kost adalah kasur, kipas angin, lemari, dan lain-lain yang wajib dimiliki oleh mahasiswa ketika menempuh studinya.
Tak jarang pula beberapa kost menambah fasilitas seperti Air Conditioner (AC) dan tentu saja dengan harga yang dilebihkan. Dalam hal ini mahasiswa tidak perlu membawa barang berat (kasur dan lemari) ke tempat tinggal sementaranya, cukup membayar tempat tersebut setiap bulan. Selain itu, mahasiswa tidak perlu repot untuk membayar listrik dan air sendiri karena pemilik ataupun penjaga kos yang akan melakukan hal tersebut.
Lalu, bagaimana dengan kontrakan?
Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa biasanya kontrakan di bayar setiap tahun. Kontrakan biasanya hanya 'kosongan' atau yang disebut tidak adanya fasilitas yang disediakan seperti di kos. Mahasiswa harus menyiapkan barang-barang itu sendiri dan juga merepotkan diri sendiri dengan membayar listrik dan air sendiri. Jikapun ada kerusakan hal itu menjadi pekerjaan dari mahasiswa tersebut. Biasanya dalam satu kontrakan, mahasiswa itu tidak sendiri namun mengajak teman-temannya untuk tinggal bersama.
Jika kamu mahasiswa baru yang tidak ingin diganggu dan tidak menyukai keramaian maka silakan memilih kost sebagai tempat tinggal ternyamanmu karena salah satu keuntungan kos adalah selain fasilitas yang sudah diberikan, harga pun terjangkau bagi kantong mahasiswa pada umumnya.
Sumber :
https://www.kompasiana.com/wanawanaw/593e42b5fcd3ae7cbc5979e2/kost-vs-kontrakan
Jadi tidak perlu heran kalau mayoritas anak "kuliahan" adalah anak yang tinggal di kos-kosan maupun kontrakan, mereka memilih ngekos atau ngontrak biasanya dikarenakan jarak rumah dan kampus memang jauh, yang tidak memungkinkan jika melakukan perjalanan pp --pulang pergi- setiap harinya, belum kalau ada kegiatan dan tugas-tugas kampus yang menyita waktu dan menuntut mereka untuk bolak-balik ke kampus.
Bagi kamu mahasiswa perantauan pasti sangatlah penting untuk menentukan tempat tinggal yang nyaman dan tempat yang strategis di sekitar kampus. Namun, kerap kali tempat tinggal kos dan kontrakan menjadi pilihan yang sulit bagi siswa yang baru saja akan menempuh perkuliahan apalagi siswa tersebut tidak mengetahui kondisi daerah sekitar kampus.
Sebelumnya banyak yang tidak mengetahui perbedaan dari kos dan kontrakan itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Indekos adalah tinggal di rumah orang lain dengan atau tanpa makan (dengan membayar setiap bulan). Kontrakan adalah yang dikontrak atau disewa (tentang rumah dan sebagainya).
Ada juga yang mengatakan bahwa "kost" itu untuk orang lajang saja, dan untuk yang sudah berkeluarga menyebutnya "kontrakan". Ada pula yang membedakan dari tempatnya, jika "kost" itu untuk sebuah kamar, jika "kontrakan" adalah sebuah rumah. Ada juga yang membedakan dari sistem pembayarannya, kalau "kost" sistem pembayarannya bulanan, kalau "kontrakan" sistem pembayarannya tahunan.
Dalam seiring berjalannya waktu, pengusaha kost berlomba-lomba untuk memperbaiki bahkan menambah fasilitas di setiap kamarnya dengan meninggikan harga sesuai fasilitas yang ada. Biasanya isi kamar dalam sebuah kost adalah kasur, kipas angin, lemari, dan lain-lain yang wajib dimiliki oleh mahasiswa ketika menempuh studinya.
Tak jarang pula beberapa kost menambah fasilitas seperti Air Conditioner (AC) dan tentu saja dengan harga yang dilebihkan. Dalam hal ini mahasiswa tidak perlu membawa barang berat (kasur dan lemari) ke tempat tinggal sementaranya, cukup membayar tempat tersebut setiap bulan. Selain itu, mahasiswa tidak perlu repot untuk membayar listrik dan air sendiri karena pemilik ataupun penjaga kos yang akan melakukan hal tersebut.
Lalu, bagaimana dengan kontrakan?
Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa biasanya kontrakan di bayar setiap tahun. Kontrakan biasanya hanya 'kosongan' atau yang disebut tidak adanya fasilitas yang disediakan seperti di kos. Mahasiswa harus menyiapkan barang-barang itu sendiri dan juga merepotkan diri sendiri dengan membayar listrik dan air sendiri. Jikapun ada kerusakan hal itu menjadi pekerjaan dari mahasiswa tersebut. Biasanya dalam satu kontrakan, mahasiswa itu tidak sendiri namun mengajak teman-temannya untuk tinggal bersama.
Jika kamu mahasiswa baru yang tidak ingin diganggu dan tidak menyukai keramaian maka silakan memilih kost sebagai tempat tinggal ternyamanmu karena salah satu keuntungan kos adalah selain fasilitas yang sudah diberikan, harga pun terjangkau bagi kantong mahasiswa pada umumnya.
Sumber :
https://www.kompasiana.com/wanawanaw/593e42b5fcd3ae7cbc5979e2/kost-vs-kontrakan
Antara Kamar Kost dan Rumah Kontrak
“Mau ngekos apa ngontrak ya?” Demikian tanya saya pada diri sendiri di permulaan tahun perkuliahan dimulai. Ternyata hanya untuk memutuskan ngekos atau ngontrak itu bukan hal yang mudah. Ada beberapa pertimbangan dalam pembuatan keputusan.
Apa beda kos dan kontrak?
Ada perbedaan yang cukup signifikan antara kos (kos-kosan) dan kontrakan. Biasanya, kos-kosan hanyalah satu ruangan yang sudah lengkap berisi fasilitas, sedangkan kontrakan adalah ruang kosong tanpa fasilitas dari pemilik. Dengan demikian, kamu akan membutuhkan biaya lebih banyak jika kamu memutuskan untuk ngontrak?
Kenapa?
Karena kamu harus membeli barang-barang alias fasilitas kontrakan, seperti kasur, lemari, perabot, dll. yang kamu rasa perlu. Kalau ngekos, fasilitas yang lengkap, minimal kasur dan lemari sudah diberikan oleh sang pemilik kos.
Kos-kosan biasanya hanya berbentuk satu petak kamar (ruang) saja, sedangkan kontrakan, ada yang satu petak, tiga petak, bahkan bisa saja sebuah rumah. Kamu harus pertimbangkan, lebih suka tinggal sendiri atau bersama orang lain?
Kalu kamu tipe orang yang intrapersonal bin introvert, atau setidaknya selalu butuh waktu untuk menyendiri di setiap harinya, sebaiknya kamu pilih sewa kos yang sekamar sendiri saja. Bisa juga memilih kontrakan yang bentuknya rumah atau yang penting memungkinkan kamu untuk punya ruang sendiri di kontrakan itu. Tapi, kalau kamu lebih suka hidup dengan orang lain, sebaiknya kamu pilih kontrakan saja sebab biasanya akan lebih luas ruangannya jika dibandingkan dengan sepetak kamar kos yang ditempati berdua.
Kemudian soal harga. Ini memang urusan yag paling sensitif. Biasanya, harga sewa kontrakan akan jauh lebih mahal daripada sewa kos-kosan. Di daerah Jakarta, harga sewa kos berkisar antara Rp 300.000 – Rp 450.000 perbulan untuk fasilitas standar. Selebihnya harga berfariasi hingga jutaan rupiah dengan fasilitas seperti AC, dll.
Sedangkan harga sewa kontrakan biasanya Rp 500.000-800.000 untuk kontrakan berbentuk lurus satu sampai tiga petak. Sedangkan yang berbentuk rumah biasanya dibayar pertahun, mulai dari harga Rp 12.000.000 hingga Rp 32.000.000 atau bahkan lebih, bergantung pada kondisi dan letak strategis bangunannya. Sebenarnya, kalau ingin tinggal sendiri, lebih baik pilih kos-kosan, tapi kalu ingin tinggal berdua atau lebih, sebainya pilih kontrakan.
Kos-kosan biasanya tidak memiliki fasilitas untuk kamu memasak dan bahkan ada pemilik kosa yang dengan tegas melarang penyewanya memasak dengan alasan kebersihan. Sedangkan di kontrakan, kamu bisa bebas asalkan punya fasilitasnya.
Status kepemilikan kos, meskipun sudah disewa, namun tetap berada di tangan pemilik, sehingga jika ada kerusakan, misalnya saluran air, pemilik kos bertanggung jawab atas itu. Sedangkan status pemilik kontrakan sepenuhnya adalah milik penyewa rumah sehingga segala kerusakan ditanggung oleh penyewa tersebut.
Demikian perbedaan dan perbandingan yang signifikan antara kos-kosan dan kontrakan. Buat kamu yang sedang akan membuat keputusan ngekos atau ngontrak, semoga pertimbangan di atas bisa bermanfaat.
Saran terakhir, kalau kamu datang dari luar kota, masih belum tau persis kondisi wilayah yang akan kamu tempati, sebaiknya kamu pilih kos saja. Kenapa? Karena dengan ngekos kamu nggak perlu beli banyak barang, or it means that barang-barang kamu masih secukupnya. Jika suatu haru ternyata kamu semakin mengenal keadaan lingkungan kosmu kurang enak, kamu bisa pindah dan membawa barang yang tidak terlalu banyak.
Sumber :
https://endangsriwahyunie.wordpress.com/2011/12/14/antara-ngekos-dan-ngontak/
Apa beda kos dan kontrak?
Ada perbedaan yang cukup signifikan antara kos (kos-kosan) dan kontrakan. Biasanya, kos-kosan hanyalah satu ruangan yang sudah lengkap berisi fasilitas, sedangkan kontrakan adalah ruang kosong tanpa fasilitas dari pemilik. Dengan demikian, kamu akan membutuhkan biaya lebih banyak jika kamu memutuskan untuk ngontrak?
Kenapa?
Karena kamu harus membeli barang-barang alias fasilitas kontrakan, seperti kasur, lemari, perabot, dll. yang kamu rasa perlu. Kalau ngekos, fasilitas yang lengkap, minimal kasur dan lemari sudah diberikan oleh sang pemilik kos.
Kos-kosan biasanya hanya berbentuk satu petak kamar (ruang) saja, sedangkan kontrakan, ada yang satu petak, tiga petak, bahkan bisa saja sebuah rumah. Kamu harus pertimbangkan, lebih suka tinggal sendiri atau bersama orang lain?
Kalu kamu tipe orang yang intrapersonal bin introvert, atau setidaknya selalu butuh waktu untuk menyendiri di setiap harinya, sebaiknya kamu pilih sewa kos yang sekamar sendiri saja. Bisa juga memilih kontrakan yang bentuknya rumah atau yang penting memungkinkan kamu untuk punya ruang sendiri di kontrakan itu. Tapi, kalau kamu lebih suka hidup dengan orang lain, sebaiknya kamu pilih kontrakan saja sebab biasanya akan lebih luas ruangannya jika dibandingkan dengan sepetak kamar kos yang ditempati berdua.
Kemudian soal harga. Ini memang urusan yag paling sensitif. Biasanya, harga sewa kontrakan akan jauh lebih mahal daripada sewa kos-kosan. Di daerah Jakarta, harga sewa kos berkisar antara Rp 300.000 – Rp 450.000 perbulan untuk fasilitas standar. Selebihnya harga berfariasi hingga jutaan rupiah dengan fasilitas seperti AC, dll.
Sedangkan harga sewa kontrakan biasanya Rp 500.000-800.000 untuk kontrakan berbentuk lurus satu sampai tiga petak. Sedangkan yang berbentuk rumah biasanya dibayar pertahun, mulai dari harga Rp 12.000.000 hingga Rp 32.000.000 atau bahkan lebih, bergantung pada kondisi dan letak strategis bangunannya. Sebenarnya, kalau ingin tinggal sendiri, lebih baik pilih kos-kosan, tapi kalu ingin tinggal berdua atau lebih, sebainya pilih kontrakan.
Kos-kosan biasanya tidak memiliki fasilitas untuk kamu memasak dan bahkan ada pemilik kosa yang dengan tegas melarang penyewanya memasak dengan alasan kebersihan. Sedangkan di kontrakan, kamu bisa bebas asalkan punya fasilitasnya.
Status kepemilikan kos, meskipun sudah disewa, namun tetap berada di tangan pemilik, sehingga jika ada kerusakan, misalnya saluran air, pemilik kos bertanggung jawab atas itu. Sedangkan status pemilik kontrakan sepenuhnya adalah milik penyewa rumah sehingga segala kerusakan ditanggung oleh penyewa tersebut.
Demikian perbedaan dan perbandingan yang signifikan antara kos-kosan dan kontrakan. Buat kamu yang sedang akan membuat keputusan ngekos atau ngontrak, semoga pertimbangan di atas bisa bermanfaat.
Saran terakhir, kalau kamu datang dari luar kota, masih belum tau persis kondisi wilayah yang akan kamu tempati, sebaiknya kamu pilih kos saja. Kenapa? Karena dengan ngekos kamu nggak perlu beli banyak barang, or it means that barang-barang kamu masih secukupnya. Jika suatu haru ternyata kamu semakin mengenal keadaan lingkungan kosmu kurang enak, kamu bisa pindah dan membawa barang yang tidak terlalu banyak.
Sumber :
https://endangsriwahyunie.wordpress.com/2011/12/14/antara-ngekos-dan-ngontak/
Subscribe to:
Comments (Atom)