Sunday, March 27, 2022

Sukses Bisnis Kos-kosan di Usia 28 Tahun

Pernah Rugi Ratusan Juta, Pria Magetan Sukses Bisnis Kos-kosan di Usia 28 Tahun

Sabtu, 26 Mar 2022 19:03 WIB

Jodoh, maut, dan rezeki memang sudah diatur oleh Tuhan, Bunda. Namun, rezeki tidak akan bisa digapai tanpa adanya usaha dari diri sendiri.

Bangkit dari kegagalan dan mencapai kesuksesan ini turut dirasakan oleh seorang pria kelahiran Magetan, Reven Audia Rahmanda, Bunda. Reven adalah seorang pengusaha kontraktor sukses yang awalnya harus rugi ratusan juta rupiah.

Reven bercerita bahwa dirinya terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Namun, Reven harus mulai banting tulang sejak dirinya dan seorang kembarannya menempuh pendidikan tinggi.

Kala itu, kembaran Reven tengah menimba ilmu sebagai seorang dokter. Reven pun memutuskan untuk membiayai hidupnya sendiri.

"Saya berasal dari keluarga yang berkecukupan. Tetapi di 2013 orang tua saya memasukkan saya kuliah (di Malang) dan kembaran saya kuliah di Jember dengan jurusan yang mahal yakni kedokteran," ungkapnya pada HaiBunda beberapa waktu lalu.

"Di situ saya mulai berpikir apa yang bisa saya lakukan di Kota Malang ini," sambungnya kemudian.

Reven pun memutuskan untuk mencoba berbagai macam bisnis, Bunda. Ia mulai berjualan baju, power bank, hingga nasi bungkus.

"Dari bisnis power bank ini saya meraup uang per minggu Rp4-6 juta dengan banyak reseller yang berlangsung hingga 2014. Kemudian saya kelelahan ditambah dengan kehilangan motor. Belum selesai masalah, diketahui kalau power bank yang saya jual KW alias imitasi. Alhamdulillah rugi sekitar Rp30 juta," paparnya.

Tak kehilangan akal, Reven mencoba untuk bangkit kembali, Bunda. Di tahun 2017, ia beralih menjadi makelar rumah dan bisa membeli sebuah rumah.

Di tahun 2018, Reven memulai bisnis kontraktornya dengan nama CV MUTIARA INDONUSA. Dalam waktu tiga bulan, Reven bisa menghasilkan uang sebesar Rp200 juta, Bunda.

Meski begitu, tak dapat dipungkiri kalau usahanya tetap mendapatkan kendala. Ia bahkan sempat rugi hingga Rp350 juta dan memiliki utang hingga Rp100 juta.

Hingga kini, Reven telah melebarkan bisnisnya ke berbagai bidang, Bunda. Ia bahkan memiliki bisnis kos-kosan di daerah Magetan.

"Bisnis saya bergerak di bidang kontraktor. Perusahaan saya menjual material semen dan bata putih. Kami juga punya rumah kos di area Magetan. Yang terbaru, kami membuka homemade dengan penjualan tas, sepatu, serta produk wanita lainnya," tutur pria kelahiran 1994 ini.

Selama masa pandemi, ada banyak perusahaan dan bisnis yang mengalami penurunan omzet, Bunda. Hal ini juga terjadi pada Reven, lho.

Reven mengatakan bahwa dari keempat bisnis yang ia miliki, omzet yang didapatkan sering naik dan turun. Kondisi ini berlangsung mulai dari tahun 2018 hingga awal COVID-19 di 2020.

"Dari keempat bisnis kami bisa dibilang (omzetnya) naik turun karena kondisi pandemi saat ini. 2018-2020 (awal Covid) bersih tanpa gaji karyawan bisa menghasilkan Rp70 hingga Rp90 juta per bulan," katanya.

"Di tahun 2021 hingga 2022, sebagai pengusaha kita sadar dengan kondisi kita saat ini. Kami mengalami penurunan omzet bersih (di luar gaji karyawan) menjadi Rp60 hingga Rp70 juta per bulan," sambungnya kemudian.

Meski begitu, Reven mengaku bahwa hasil dari usahanya selama ini tak lepas dari doa kedua orang tua dan izin Allah, Bunda. Ia bahkan selalu berdoa agar kedua orang tuanya bisa bangga dengan dirinya.

"Semua perjalanan saya tak lepas dari orang tua yang sangat yakin dengan apa yang saya kerjakan. Serta izin Allah SWT yang telah mengamanahkan wadah perusahaan ini ke saya," kata suami dari seorang perawat ini.

"Saya selalu berdoa agar orang tua saya, ibu dan almarhum bapak yang telah mendahului kami bisa ikut melihat perjuangan saya yang luar biasa ini," tambahnya.

Reven sangat yakin bahwa kesuksesannya sat ini bisa menjadi inspirasi serta motivasi untuk Bunda yang tengah berjuang membangun bisnis dari nol. Karena itu, Reven memberikan sedikit tips yang bisa Bunda coba, nih.

Reven mengaku sangat bangga dengan para Bunda yang sangat kreatif dalam membangun bisnis. Meski begitu, Reven menyarankan agar Bunda bisa memisahkan rekening dagang dan rumah tangga.

"Saya sangat bangga dengan ibu-ibu masa kini yang sangat kreatif dan banyaknya yang jualan online. Untuk ibu-ibu, saya cuma saran agar bedakan rekening dagang dengan rekening rumah tangga. Karena hasil akan lebih terlihat pada akhir bulan," tutur ayah satu anak ini.

Tak hanya itu, Reven juga menyarankan agar Bunda memahami cara pemasaran yang baik. Menggunakan media sosial juga merupakan saran yang ia berikan.


Sumber :

https://www.haibunda.com/moms-life/20220324220430-76-269821/pernah-rugi-ratusan-juta-pria-magetan-sukses-bisnis-kos-kosan-di-usia-28-tahun/3

Monday, March 21, 2022

Umur Pekerja Jakarta Habis di Jalan

Umur Pekerja Jakarta Habis di Jalan

18 Maret 2012


Jumlah pegawai kantor saya di Jakarta Pusat sekitar 600 orang. Dari segi tempat tinggal, mereka yang tinggal di wilayah Jakarta jumlahnya tak lebih dari 15 %, selebihnya menyebar di kawasan penyangga seperti Bekasi, Depok, Tangerang sampai Bogor.

Dari sisi alat transportasi yang digunakan oleh mereka ke kantor, dalam hitungan saya, sekitar 30 % menggunakan KRL, 20 % bus/angkutan umum, 35 % motor dan sisanya membawa mobil pribadi atau jalan kaki.

Setiap hari rata-rata mereka berangkat dari rumah dari jam 5 sampai jam 6 pagi dan pulang kembali ke rumah sekitar jam 8 atau 9 malam. Perjalanan dari rumah ke kantor  rata-rata antara 2-3 jam sekali jalan, atau 4-6 jam pulang pergi.

Dengan hitungan seperti itu berarti mereka menghabiskan waktu di jalan selama seperenam sampai seperempat dari waktu hidupnya. Itu waktu yang normal, kalau terjadi kemacetan di jalan, tentu waktu yang dibutuhkan lebih lama lagi.

Jika seorang pegawai mempunyai masa kerja selama 20 tahun di Jakarta, maka berarti ia menghabiskan sekitar 4 sampai 6 tahun di jalanan.

Kalau dihitung dari sisi produktivitas, waktu selama itu adalah waktu yang sangat tidak produktif dan sia-sia. Selama di perjalanan, para pegawai hampir tidak bisa melakukan aktivitas apa-apa, bahkan seringkali disuguhi berbagai pemandangan dan peristiwa yang sering menyesakkan dada. Perilaku sopir bis dan angkutan kota yang cenderung ugal-ugalan di jalan, para pengendara motor yang saling berebut dan menyalip satu sama lain, KRL yang sesak dan penuh penumpang, bajai dan ojek yang mengambil jalur sembarangan adalah pemandangan yang biasa dilihat selama perjalanan.

Lewat catatan sekilas ini, saya ingin menuliskan sedikit pengamatan saya terhadap profil dan kinerja pegawai dalam hubungannya dengan alat transportasi yang dipakai ke kantor.


Pengguna KRL

Mereka yang naik KRL, apalagi yang ekonomi, sesampai di kantor biasanya sudah dalam keadaan kusut masai. Di dalam KRL, keadaan mereka seperti dipanggang dan penuh sesak seperti ikan pepes, untuk menggerakkan tubuh saja susahnya minta ampun.  Untuk bisa masuk dan keluar KRL saja perlu perjuangan yang tidak ringan.

Sisi positifnya, para pegawai yang menumpang KRL ini biasanya datang tepat waktu, jarang sekali mereka terlambat kecuali jika terjadi gangguan seperti KRL macet di perjalanan. Kalau ini terjadi, maka pegawaian dinas di kantor saya bisa “lumpuh”, karena pegawai yang menggunakan KRL berasal dari semua level, mulai level tukang bersih kantor, satpam, petugas pelaksana sampai ke manajer. Saya pribadi pulang pergi kantor juga menggunakan jasa KRL ini.


Pengguna Bis Umum

Pegawai yang menggunakan bis ke kantor biasanya agak rapi tiba di kantor. Selama di perjalanan mereka bisa tidur di bis karena mereka rata-rata naik dari terminal awal atau tempat pemberangkatan bis jemputan berbagai instansi yang cukup banyak disediakan oleh departemen-departemen pemerintah. Meskipun bukan pegawai departemen tersebut, kita bisa ikut naik bis departemen tersebut, tentu saja harus membayar.

Sisi yang kurang menguntungkan dari pegawai yang menggunakan bis sebagai alat transportasi ini adalah tingkat keterlambatannya relatif tinggi. Masalah ini bukan karena kesalahan atau kemalasan pegawai tersebut, tetapi lebih banyak karena faktor macet di jalan. Jalan-jalan di Jakarta, sebagaimana kita ketahui, tingkat kemacetannya semakin hari semakin menjadi, terutama di pagi dan sore hari, saat para pegawai berangkat dan pulang kantor. Kemacetan ini sulit diprediksi, jarak satu kilometer saja, kadang harus ditempuh dalam waktu satu hingga dua jam.


Pengguna Motor Roda Dua

Pegawai yang naik kendaraan bermotor roda dua rata-rata tepat waktu tiba di kantor, bahkan sering datang lebih pagi dibandingkan pegawai lain.

Setiap kali naik kendaraan roda dua di jalan, suasanya mirip dengan arena tanding balap motor. Mereka harus pintar bermanuver di antara himpitan kendaraan lain, tak jarang mereka juga saling kejar dan salip satu sama lain. Setiba di kantor, wajah mereka tampak lega, mereka seperti habis memenangkan sebuah lomba balap.

Setelah memarkir kendaraan, melepas helm dan jaket, mereka akan berpantas diri dan menyisir rambut di depan kaca spion.

Naik kendaraan roda dua di jalanan Jakarta bukan tidak ada bahayanya. Beberapa rekan saya meninggal saat berangkat dan pulang kantor. Salah satunya, terjadi belum lama ini. Salah seorang rekan kerja yang pulang malam hari, terpeleset motornya ketika hendak pindah ke jalur busway di jalan Yos Sudarso, Jakarta Utara, tiba-tiba dari belakang truk kontainer datang menyambar. Tubuh dan motornya tercerai berai, inna lillah.

Masalah lain yang sering dihadapi pengendara roda dua adalah banyaknya ranjau paku yang disebar di jalanan. Hampir setiap hari, ada saja rekan yang terlambat masuk gara-gara ban motornya gembos karena terkena paku ini.

Meskipun saat ini banyak relawan dan petugas yang setiap hari rajin membersihkan paku di jalanan, namun paku tersebut nampaknya masih banyak yang tersebar di jalan.

Saya sendiri pernah punya pengalaman dengan ranjau paku di sebuah jalan protokol Jakarta. Yang lebih merepotkan, di kawasan tersebut tidak ada tukang tambal ban di pinggir jalan, sehingga saya terpaksa harus menuntun motor sampai 1 km lebih jaraknya.


Pengguna Mobil Pribadi dan Penghuni Kos

Diluar pengguna KRL, bis umum dan kendaraan roda dua, ada juga pegawai yang menggunakan mobil pribadi dan ada juga yang kos di sekitar kantor. Untuk pengguna mobil pribadi rata-rata rumahnya berada di sekitar Jakarta. Mereka biasanya datang ke kantor tepat waktu, karena relatif tidak ada hambatan, paling-paling mengalami sedikit macet seperti pengguna bis umum.

Untuk yang kos, biasanya mereka adalah pegawai baru yang belum berkeluarga atau pegawai yang keluarganya tinggal di kota lain, tak ada masalah bagi mereka dalam soal transportasi ke kantor.


Sumber :

https://www.kompasiana.com/amp/aljohan/umur-pekerja-jakarta-habis-di-jalan_550e95a7a33311a32dba84f5

Sunday, March 20, 2022

Beli Atau Sewa Properti?

Beli Atau Sewa Properti? Ini Perbandingannya


Menyewa atau membeli properti untuk tempat tinggal merupakan topik perdebatan panjang yang selalu diperdebatkan orang dari waktu ke waktu.

Pilihan untuk membeli atau pun menyewa rumah/apartemen sebagai tempat tinggal merupakan salah satu keputusan finansial terpenting, dan cepat atau lambat harus ditentukan demi hidup dalam jangka panjang.

Sering kali, orang memutuskan untuk membeli rumah karena baginya memiliki hak milik atas rumah membuatnya bebas untuk tinggal dan menempatkan barang-barangnya dalam satu tempat. Dan menurutnya, memiliki rumah sama dengan membangun aset investasi dalam jangka panjang. Padahal dari kondisi finansialnya, ia sebenarnya lebih cocok untuk menyewa saja.

Sama halnya dengan menyewa. Orang lain merasa lebih baik menyewa rumah saja dibanding membelinya karena fleksibilitas tinggal (terutama mereka yang rutin menjalani business trip/pindah kerja ke daerah lain) dan tanggungjawab yang minim dari segi pengeluaran atas pemeliharaan rumah tersebut. 

Padahal, dari segi finansial, ia sebenarnya mampu mengumpulkan kekayaan bersih yang lebih besar dari waktu ke waktu bila total uang yang digunakan untuk menyewa digunakan untuk membeli rumah.

Dari dua pilihan tersebut, perdebatan panjang cenderung mengarah ke pilihan untuk membeli dibandingkan menyewa. Alasannya antara lain:
  1. Properti merupakan salah satu bisnis terbesar yang ada dari dulu sampai sekarang
  2. Mulai dari penyedia jasa kredit/KPR, agen properti hingga industri keperluan rumah sangat bergantung pada industri properti
  3. Anggapan bahwa memiliki rumah sama dengan memiliki aset investasi dalam jangka panjang
  4. Kepemilikan atas suatu properti dianggap sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam hal finansial
Maka jangan heran bila hingga detik ini kita selalu mendapatkan stereotip bahwa memiliki rumah merupakan kunci atas kebahagiaan dan impian bagi setiap orang.

Namun satu hal yang perlu kita sadari, dan sebagai satu alasan kenapa perdebatan panjang antara membeli atau menyewa rumah tidak pernah selesai, adalah karena memiliki rumah tidaklah secara mutlak lebih baik dibandingkan menyewa. Begitu juga, menyewa tidak selalu lebih simpel dibandingkan membeli.

Ada banyak sekali pertimbangan.

Beli Rumah
  • Ketika orang membeli rumah/melunasi seluruh cicilan yang dikenakan, rumah itu menjadi hak miliknya sepenuhnya.
  • Bila harga rumah tersebut secara value mengalami apresiasi nilai lebih besar dibandingkan biaya cicilan, bunga pajak dan biaya pemeliharaan secara total yang sudah kamu bayar, kamu tentu akan mendapatkan cuan atau paling tidak impas antara nilai total dari rumah tersebut dibandingkan seluruh pengeluaran selama proses pelunasannya.
  • Kredit pajak membantu mengimbangi sebagian biaya kepemilikan rumah. Orang menganggap bahwa membeli rumah memiliki kekurangan di bidang opportunity cost, di mana bila kamu menginvestasikan DP, pajak, asuransi, dan bunga dari cicilan pembelian rumah, kamu bisa mendapatkan bunga darinya.
  • Kepemilikan atas rumah memberikan manfaat seperti rasa tenang akan stabilitas, menjadi bagian dari masyarakat sekitar, rasa bangga, hingga aset fisik jangka panjang.
  • Kepemilikan aset fisik berupa rumah dianggap sebagai keuntungan jangka panjang, impian finansial, dan hal yang harus dipenuhi oleh setiap orang yang berumah tangga.

Sewa Rumah
  • Secara penggunaan biasanya sama saja dengan kamu memiliki rumah tersebut, namun ada biaya rutin yang harus kamu keluarkan, yakni biaya sewa entah itu tiap bulan atau pun tahunan.
  • Menyewa rumah bukan secara mutlak berarti bahwa kamu ‘membuang uang’ untuk tempat tinggal, melainkan kamu ‘punya’ tempat untuk tinggal selama kamu menyewanya.
  • Banyak orang menganggap bahwa menyewa rumah meminimalisir biaya untuk perbaikan, pemeliharaan dan hal-hal lain karena rata-rata ditanggung oleh pemilik rumah.
  • Menyewa rumah menawarkan fleksibilitas, biaya bulanan yang terprediksi, dan minimnya biaya perbaikan/pemeliharaan karena ditanggung oleh pemilik properti.
Dan masih banyak lagi argumen yang sering digunakan orang sebagai dasar kenapa mereka memutuskan untuk memilih salah satu di antara sewa atau beli rumah.

Argumen di atas sebenarnya tidak ada yang salah dan tidak ada juga yang mutlak benar. Semuanya digunakan orang atas basis perhitungan, asumsi maupun preferensi yang muncul saat opsi di antara keduanya muncul.

Sebenarnya, tidak bisa diputuskan opsi yang mana yang paling benar untuk dipilih. Semuanya bergantung pada hal-hal spesifik seperti biaya rumah, biaya sewa, cicilan, pajak, suku bunga dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, tidak ada keputusan yang secara inheren cerdas atau bodoh bila memilih di antara keduanya. Opsi tersebut nantinya akan mengerucut pada angka-angka hasil perhitungan yang kamu lakukan sebelumnya yang malah akan mengubah keputusanmu sekarang di masa yang akan datang, dan justru malah bisa menghancurkan atau pun melindungi keuanganmu.

Ketika kamu membeli rumah, kamu nantinya tentu tidak perlu membayar biaya-biaya yang harus dibayar sebagai penyewa. Begitu pun sebaliknya sebagai penyewa, kamu tidak perlu membayar biaya cicilan KPR, pajak, asuransi, dan sebagainya.

Faktor-faktor di bawah ini umumnya sering dilewatkan saat menentukan beli atau sewa rumah:

Berapa lama rencanamu akan tinggal di rumah tersebut? Ada kalanya orang memutuskan untuk menyewa rumah saja karena kondisi pekerjaannya yang memungkinkan ia akan terus berpindah tempat kerja ke daerah lain.
Ada juga yang memutuskan untuk tinggal di daerah tersebut dalam jangka panjang, misalnya puluhan tahun, sehingga lebih logis untuk membeli rumah sendiri.

Kondisi dan biaya perumahan di daerah tersebut: Di Jakarta, misalnya, rata-rata orang memilih untuk menyewa rumah atau apartemen karena:
  • Biaya rumah sangat mahal
  • Hampir tidak ada lagi perumahan baru
  • Kalaupun ada, harganya pasti sudah sangat mahal mengikuti kondisi geografis dan tren pasar
  • Hampir tidak ada lagi kavling yang dijual untuk membangun rumah baru
  • Kondisi yang sudah sangat padat, macet, dan faktor lainnya untuk hidup dalam jangka panjang
  • Orang rata-rata bekerja di Jakarta bukan untuk tinggal dalam jangka panjang
  • Dan berbagai faktor lainnya
Menyoal sewa rumah, bila harga sewa per bulan di Jakarta hampir sama dengan nominal cicilan KPR untuk rumah di Tangerang atau Bogor, bukankah sebaiknya membeli rumah saja? Tentu akan ada pengorbanan antara lain waktu dan biaya selama perjalanan serta tenaga karena jarak tinggal dan tempat bekerja.

Opportunity cost saat kamu memutuskan untuk beli rumah, biasanya dirasa sangat penting bagi investor. Misalnya, dalam jangka panjang, biaya pembelian rumah mulai dari DP, asuransi, pajak, bunga dan sebagainya, bila diinvestasikan pada bursa saham dengan return 15% per tahun, atau reksa dana dengan 9% per tahun, atau juga KoinRobo dengan 13% per tahun, berapa total bunga yang akan kamu dapatkan? Apalagi rata-rata tenor KPR biasanya berkisar antara 15 – 20 tahun dengan cicilan, katakanlah Rp5 juta per bulan.
Bila kita simulasikan secara ringkas, katakanlah nominal investasi awal sebesar Rp5 juta dan setiap bulannya rutin menginvestasikan lagi Rp5 juta, dalam jangka waktu 15 tahun dan dengan bunga (dalam hal ini kita ambil contoh bunga KoinRobo) sebesar 13% per tahun, maka kamu bisa mendapatkan:
  • Total Investasi: Rp 905.000.000 (Selama 15 tahun + Rp5 juta untuk investasi awal)
  • Future Value dari nominal tersebut: Rp 2.813.183.211
  • Bunga Keuntungan (13% per tahun secara stabil): Rp 1.908.183.211
Pertimbangan akan opportunity cost tersebut baik, apalagi bila benar-benar diinvestasikan dan mendapatkan bunga. Tapi apakah kamu benar-benar akan menginvestasikan uang itu, atau hanya menyimpannya di rekeningmu dengan bunga rendah dan potongan biaya bulanan?

Dari pembahasan kita sejauh ini sebenarnya mengindikasikan bahwa tidak ada pilihan yang lebih baik di antara sewa atau beli properti karena keputusan tersebut sangat bergantung pada kamu sendiri.

Kamu harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti lokasi tinggal, rumah seperti apa yang diinginkan, berapa biaya sewa dan beli rumah, dan berapa nominal yang harus dibayar dalam masa mendatang, dan tentu saja masih banyak lagi.

Kamu juga tentu saja membutuhkan gambaran perhitungan dari segi biaya dengan menghitung seluruh biaya yang akan dikeluarkan baik saat menyewa atau membeli rumah yang diinginkan.

Banyak orang berpendapat bahwa rumah yang dibeli untuk ditinggali bukanlah sebuah aset investasi.

Bila kamu membeli rumah dan menyewakannya ke orang lain untuk berbagai keperluan seperti tempat tinggal, kantor dan sebagainya, itu bisa didefinisikan sebagai aset investasi berupa rumah.

Atau kamu juga bisa menyewakannya misalnya dalam 15 tahun ke depan untuk mematangkan apresiasi nilainya dan kemudian dijual dengan persentase keuntungan yang menarik.

Namun, jangan terkejut bila ternyata nilai apresiasi dalam belasan atau puluhan tahun mendatang tidak mampu mengimbangi inflasi sehingga persentase keuntungan penjualan rumah malah kurang menarik.

Katakanlah kamu membeli rumah dengan metode cicilan KPR dalam jangka waktu 20 tahun. Menurut kamu, apakah harga rumah saat ini sudah dikalkulasikan dengan potensi keuntungan yang akan didapat dalam 20 tahun mendatang?

Misalnya, harga rumah yang kamu beli saat ini Rp1 miliar. Menurutmu itu sangat mahal dan tidak cocok dijadikan sebagai nilai rumahmu. Selama 20 tahun mendatang, dari segi nilai, ada kemungkinan bahwa rumah tersebut sama nilainya dengan Rp1 miliar seperti saat ini, meski secara nominal tentu saja berbeda.

Apa yang ingin disampaikan di sini adalah bahwa, daya beli orang di masa sekarang sebenarnya sama dengan daya beli orang 20 tahun mendatang secara nilai, dengan nominal yang berbeda karena adanya inflasi. Sementara, harga rumah yang dijual di masa sekarang sudah mengambil porsi potensial selama 20 tahun ke depan.


Sumber :
https://koinworks.com/blog/beli-atau-sewa-rumah/